Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran SAVI dan Motivasi Belajar (MB) Siswa terhadap Hasil Belajar Membaca Intensif Siswa Sekolah Menegah Pertama (SMP)

Herman Budiyono
M. Rusdi
Rita Suryetni

Jurnal Mlangun Volume III No. I Juni 2010

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh penerapan Model Pembelajaran Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual (MP-SAVI) dan Motivasi Belajar (MB) siswa terhadap hasil belajar membaca intensif. Rancangan penelitan yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain faktorial 2x2. Satu perlakuan/faktor dengan dua level (X1 dan X2) dan variabel moderator yang memiliki dua tingkatan (Y1 dan Y2).

Subjek penelitian ada dua kelompok, yaitu kelas eksperimen (KE) dan kelas kontrol (KK). Hasil penelitian menunjukkan secara umum ada pengaruh antara penerapan MP-SAVI dan MB siswa terhadap hasil belajar membaca intensif. Penerapan MP-SAVI berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa, hasil penghitungan melalui uji ANOVA dua jalur dengan perolehan nilai F hitung lebih besar daripada nilai F tablel (16,59>2,68). Motivasi belajar memiliki kontribusi yang positif terhadap hasil belajar, perolehan nilai F hitung lebih besar daripada F table (4,96>2,68). Tidak ada interaksi antara MP-SAVI dengan MB dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Interaksi antara penerapan MP-SAVI dengan MB memperoleh F hitung lebih kecil daripada F table (1,32<2,68). Kata Kunci: model pembelajaran, SAVI, motivasi belajar, membaca intensif I. Pengantar Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang demikian pesat menuntut terciptanya masyarakat yang gemar belajar dan membaca. Melalui membaca seseorang akan lebih dulu mengetahui dan memahami sebuah informasi. Hernowo (2003:33) menyatakan bahwa seseorang akan memperoleh pengalaman baru dari orang lain jika melakukan kegiatan membaca.

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia (BI) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah siswa memiliki kemampuan berbahasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kemampuan berbahasa itu meliputi kemampun mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat hal tersebut saling berkait sehingga setiap materi pembelajaran berbahasa dapat dikembangkan secara terpadu. Menurut Tarigan (1986:7) membaca adalah proses yang dilakukan pembaca dalam rangka memperoleh pesan melalui bahasa tulis. Iskandarwassid (2008:248) mengatakan bahwa membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Artinya kegiatan membaca bukan sekedar menangkap informasi dari teks atau bahasa tulis, tetapi kegiatan membaca juga melibatkan pemikiran, perenungan, dan khayalan.

Kegiatan membaca bukanlah suatu kegiatan sederhana, tetapi merupakan kegiatan yang melibatkan faktor-faktor yang ada dari dalam dan luar diri pembaca. Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan membaca yang berasal dari dalam dan luar diri pembaca sangat menentukan tingkat kemampuan membaca dan daya baca seseorang. Keterampilan membaca melibatkan proses mental yang tinggi, seperti pengingatan, pengkhayalan, pemikiran, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, pembelajaran membaca yang dilaksanakan di sekolah-sekolah harus dilaksanakan secara terencana dan dikelola dengan tepat sehingga kompetensi dasar membaca yang diharapkan dalam kurikulum tercapai dengan baik.

Keterampilan membaca tidak bisa ditransfer begitu saja kepada siswa, juga tidak hanya diterapkan pada salah satu studi khusus, tetapi membaca harus menyangkut kemampuan menginterpretasi banyak hal dari suatu pengalaman tertentu. Oleh karena itu, pembelajaran membaca harus dilakukan dengan cara pembimbingan yang intensif agar mencapai hasil yang baik. Harras (1989:34) menyatakan bahwa pembelajaran membaca di sekolah-sekolah belum menggembirakan dan belum mencapai sasaran yang diharapkan. Hal senada diungkapkan Tulalessy (1999:3) bahwa penghambat pertumbuhan dan perkembangan membaca di Indonesia antara lain rendahnya wawasan membaca, rendahnya kompetensi membaca para guru, kurang memadainya kompetensi dasar dalam kurikulum, kegiatan belajar verbal di sekolah-sekolah, serta kurangnya bahan bacaan. Sikap guru yang cenderung acuh terhadap pentingnya membaca berkontribusi terhadap rendahnya minat baca siswanya. Pembelajaran membaca belum menyentuh wilayah keterampilan membaca. Proses pembelajaran yang diciptakan guru pun masih monoton dan kurang bermakna. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan sebuah cara yang memungkinkan seluruh potensi yang ada di dalam diri siswa terlibat dalam pembelajaran tersebut.

Salah satu solusi agar seluruh potensi yang ada dalam diri siswa terlibat dalam pembelajaran membaca adalah penggunaan “model pembelajaran somatis, auditori, visual, dan intelektual” (MP-SAVI). Sudarni (2008:14) menyatakan bahwa MP-SAVI dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan bagi anak. Pelajaran dikemas dalam suasana bermain dan bereksperimen. Pembelajaran menggunakan MP- SAVI, guru dapat mengelola kelasnya dengan memperhatikan individu-individu yang sedang belajar. MP-SAVI adalah model pembelajaran yang menekankan pemanfaatan semua alat indra yang dimiliki siswa. Somatis bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan.

Auditori bermakna belajar melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Visual bermakna belajar menggunakan indera mata (mengamati, menggambar, membaca, atau mendemonstrasikan) menggunakan media dan alat peraga. Intelektual bermakna belajar menggunakan kemampuan berpikir (minds-on), konsentrasi pikiran, dan berlatih menggunakannya (melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan). MP-SAVI (adaptasi dari Dahlan, 1990) ada enam tahapan kegiatan seperti pada Tabel 1. Untuk lebih lengkap bisa lihat Jurnal Mlangun Volume III No. I Juni 2010, terbitan Balai Bahasa Jambi.

Sabtu, 21 Januari 2012

Urgensi Pendidikan Karakter

Oleh: Prof . Suyanto Ph.D.

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

Sumber: http://konselingindonesia.com