Tampilkan postingan dengan label Makalah Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Peran Profesionalisme Guru Dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

1. Latar Belakang
Profesionalisme seorang guru, barangkali menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem pendidikan. Bahkan bisa dikatakan, ia adalah syarat mutlak dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Dengan profesionalisme guru itu pula, maka sistem pendidikan bisa bekerja dengan baik dalam melahirkan peserta didik yang berkarakter, bermartabat, serta berbudi pekerti yang luhur, seperti apa yang diharapkan bersama.

Rabu, 19 Maret 2014

Sarana dan Prasarana Pendidikan

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Sekolah sebagai bentuk organisasi diartikan sebagai wadah dari kumpulan manusia yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu yakni tujuan pendidikan. Keberhasilan program pendidikan dalam proses belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, dana, prasarana dan sarana, dan faktor lingkunganlainnya. Apabila faktor tersebut terpenuhi dengan baik dan bermutu serta proses belajar bermutu padagilirannya akan menghasilkan meningkatkan mutu pendidikan di Negara kita ini.

Selasa, 03 Juli 2012

Peranan LPTK dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi di Indonesia


Oleh: Budihardjo AH

ABSTRAK
Mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas tinggi dan memiliki keunggulan, merupakan modal menghadapi persaingan global. Hal ini merupakan tantangan dan lahan yang sangat menguntungkan bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). LPTK dapat memberikan sumbangsih sebesar-besarnya bagi pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia melalui pengelolaan pendidikan yang berorientasi pada kecakapan kerja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan serta tuntutan kebutuhan lapangan kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka salah satu faktor yang harus diperhatikan yaitu kualitas tenaga pendidik. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang merupakan lembaga penghasil tenaga pendidik (guru) di Indonesia, sangat berperan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. LPTK mempunyai tanggung jawab menciptakan tenaga pendidik yang professional untuk mengembangkan pendidikan vokasi di Indonesia. Pendidik harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi, yaitu komponen dasar keilmuan, komponen substansi profesi dan komponen praktik profesi.
Kata Kunci: Peran LPTK, Pendidikan, Vokasi.

PENDAHULUAN
Di era CAFTA (China-Asean Free Trade Agreement) sekarang ini, perdagangan bebas tentu membawa dampak ganda. Di satu sisi, era globalisasi membuka peluang kerjasama seluas-luasnya antar negara, namun disisi lain harus diterima sebagai era persaingan yang semakin ketat dan tajam. Bisa dimaklumi jika Jepang, Amerika Serikat, dan Cina yang paling banyak mengambil manfaat dari era perdagangan bebas ini. Tiga negara ini telah memiliki fokus pengembangan teknologi baru melalui sains mutakhir. Mereka telah berada pada posisi brain intensive. Memiliki kemampuan, wahana pengembangan riset teknologi tinggi, dengan demikian sudah pada posisi dua tingkat di atas negara kita.

Bagi Indonesia meningkatkan daya saing dengan membentuk keunggulan kompetitif di semua sektor, baik sektor riil maupun jasa dengan mengandalkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan manajemen merupakan tantangan utama. Manusia sebagai sumber dari segala sumber daya tetap merupakan kunci utama kemampuan memenangkan persaingan pasar bebas. Namun persoalan yang kita dihadapi adalah mutu SDM saat ini masih tergolong rendah, tingkat pengangguran masih tinggi. Oleh karenanya pendidikan kejuruan dan training merupakan alternatif tepat dilaksanakan. Pendidikan vokasi (kejuruan) merupakan sub sistem dari sistem pembangunan nasional berperan menghasilkan tamatan yang memiliki ketrampilan dan penguasaan iptek, produktif, memiliki keunggulan dengan bekal dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang kuat untuk mengisi kebutuhan industrialisasi atau berwirausaha secara mandiri.

Mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas tinggi dan memiliki keunggulan, merupakan modal menghadapi persaingan global. Persaingan industri dan perdagangan akan selalu mengacu pada faktor-faktor penentu yakni harga, mutu, disain (selera), waktu pasokan, pemasaran, dan layanan (services). Keberhasilan faktor-faktor ini akhirnya ditentukan oleh kualitas SDM yang berperan dalam proses produksi dan pemasarannya.

Jumat, 29 Juni 2012

Aplikasi dari Behaviorisme dalam Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :

Agar mahasiswa dapat mengetahui aplikasi dari teori behaviorisme dalam proses pembelajaran.
Agar mahasiswa dapat lebih memahami tentang teori pembelajaran behaviorisme.

BAB II
PEMBAHASAN

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).

Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.

Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.

Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.

Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.

Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pelajar untuk berpikir dan berimajinasi.

Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:

Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;

Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;

Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.

APLIKASI

Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

Demikian halnya dalam pembelajaran, pelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.

Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pelajar.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.

Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat meteri pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behvioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge)ke orang yang belajar atau siswa. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid (Degeng, 2006).
Demikian halnya dalam proses belajar mengajar, siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standart-standart tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para siswa. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar siswa diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat unobservable kurang dijangkau dalam proses evaluasi.

Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah

Mementingkan faktor lingkungan
Menekankan pada faktor bagian
Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
Bersifat mekanis
Mementingkan masa lalu
Mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil
Mementingkan pembentukan reaksi atau respon
Menekankan pentingnya latihan
Mementingkan mekanisme hasil belajar
Mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.

Aplikasi teori belajar behaviorisme menurut tokoh-tokoh antara lain :

a. Aplikasi Teori Pavlov

Contohnya yaitu pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.

b. Aplikasi Teori Thorndike

Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.

Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.

Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar.

c. Aplikasi Teori Skinner

Guru mengembalikan dan mendiskusikan pekerjaan siswa yang telah diperiksa dan dinilai sesegera mungkin.

Kekurangan Dan Kelebihan Teori Behavoiristik

Kekurangan

Sebuah konsekuensi bagi guru, untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap
Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan metode ini.
Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
Murid  berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif
Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa
Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
Kelebihan

Membiasakan guru untuk bersikap  jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang menbutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya.
Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan
Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

BAB III
PENUTUP



A. Kesimpulan
Teori behaviorisme memiliki ciri khas masing-masing. Teori belajar behavioristik merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dengan respons yang menyebabkan siswa mempunyai pengalaman baru. Aplikasinya dalam pembelajaran adalah bahwa guru memiliki kemampuan dalam mengelola hubungan stimulus respons dalam situasi pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat optimal.

Implikasi perkembangan teori pembelajaran sekarang sangatlah beragam. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar, karakteristik siswa, dan sebagainya.

Teori behavioristik tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.

Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Metode behavioristik ini sesuai untuk diperolehnya kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan juga sesuai diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa.

B. Saran
Pengertian, prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami berbagai teori belajar, prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran, pendidikan yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan out put-out put yang berkualitas yang mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Senin, 18 Juni 2012

Aliran Filsafat Pendidikan

Dalam filsafat pendidikan dikenal beberapa aliran, antara lain Progresivisme, Esensialisme, Perenialisme dan Rekonstruksionisme.

1.  Aliran Progresivisme

Oleh Tuatul Mahfud Pada Filsafat

Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus berpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.

Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan mengancam adanya manusia itu sendiri ( Barnadib, 1994:28 ). Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progresivisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi, dan ilmu alam.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal;menyala. Tidak pernah sampai pada yang paling eksterm, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Progresivisme merupkan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik”, hasil belajar “dunia nyata”, dan juga pengalaman teman sebaya.

Tokoh-tokoh Aliran Progresivisme

William James ( 1842-1910 )
James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau fikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa prakonsepsi teologis, dan menempatkannya da atas dasar ilmu prilaku.
John Dewey ( 1859-1952 )
Teori Dewey tentang sekolah adalah progresivisme yang lebih menekankan kepada anak didik dan minatnya dari pada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah “Cild Centered Curiculum”, dan “Cild Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas.
Hans Vaihinger ( 1852-1933 )
Hans Vaihinger menurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan objeknya mungkin dibuktikan, satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya untuk mempengaruhi kejadian-kejadian didunia.

Pandangan Progresivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan

Anak didik diberikan kebebasan secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. Tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu aliran filsafat progresivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Kurikulum
Dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.
Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik mauopun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

2. Aliran Esensialisme

Hakikat dan Prinsip Esensialisme

Filsafat Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awak peradaban umat manusia. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa prinsp-prinsip Esensialisme adalah :

Esesialisme berakar pada ungkapn realisme objektif dan idealisme objektif  yang modern, yaitu alam semesta diatur oleh hokum alam sehingga tugas manusia memahami hokum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri dan pengelolaannya.
Sasaran pendidikan adalah mengenalkan siswa pada karakter alam dan warisan budaya. Pendidikan harus dibangun atas nilai-nilai yang kukuh, tetap dan stabil.
Nilai kebenaran bersifat korespondensi, berhubungan antara gagasan fakta secara objektif.
Bersifat konservatif ( pelestarian budaya ) dengan merfleksikan humanisme klasik yang berkembang pada zaman renaissance.

3. Aliran Perenialisme

Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan

Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau, karena dengan mengembalikan keadaan masa lampau ini,kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun peraktek bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang.

Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme memandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang ( zaman modern ) ini terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan ke masa lampau .
Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, dimana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan .
Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbullah usaha untuk bangkit kembali, dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang berdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasil-hasilnya.

Tokoh-Tokoh Aliran Perealisme

Aristoteles
Filsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosofhia Perenis. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri, kemudian didukung dan dilanjutkan St. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13.
Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Sikap ini bukanlah nostalgia ( rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata ) tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang.
Jika sikap untuk kembali kemasa lampau itu merupakan konsep bagi perenialisme dimana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini.

Pandangan Perealisme Dan Penerapanya Dibidang Pendidikan

Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Menurut epistimologi thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas, maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh.

Jadi epistimologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode deduksi, yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki.

Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk mengadakan penyelesaian masalahnya. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham.
Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar dimasa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau.

Dengan mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut, yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni :

1.      Anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.
2.      Mereka telah memikirkan peristiwa-peristiwa dan karya-karya tokoh tersebut untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan ( reverensi ) zaman sekarang.

Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan karya-karya buah pikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme tersebut.
Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik kearah kemasakan. Masak dalam arti hidup akalnya. Jadi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Sekolah rendah memberiakn pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.

Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru, di mana tugas pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran ( pengetahuan ) kepada anak didik. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.

4. Aliran Rekonstruksionisme

Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan , aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.

Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya memepunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perenialisme memilih cara tersendari, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau di kenal dangan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. Sedangkan itu aliran rekonsruksinisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.

Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia, yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar umat manusia.

Tokoh-Tokoh Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini : Caroline Pratt, Geaoge Count, Harold Rugg.

Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme merupakn kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.

KESIMPULAN

Setiap aliran-aliran filsafat ini mempunyai pengertian tersendiri yang dapat dipelajari, diamati bahkan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap aliran mempunyai makna yang berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membuat pendidikan yang lebih baik lagi, maka dari itu baik siswa maupun guru dapat menela’ah secara baik dan apa saja yang pantas untuk dipelajari dan dikembangkan.
Aliran ini juga mengajarkan kita dapat menghargai dan mengenal nilai-nilai budaya yang telah ada sejak peradaban umat manusia.

Jumat, 15 Juni 2012

Perbandingan Pendidikan di Negara Islam


BAB I 
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Fakta mengatakan bahwa negara-negara Islam tertinggal jauh dengan negara selain Islam, baik itu dari segi pendidikan, ekonomi, produksi maupun kualitas sumber daya manusianya. Fenomena ini dilukiskan seorang penulis Muslim Syria yang bernama Amir Syakib Arsalan, dia menulis sebuah buku “Limadza Ta’akhara al-Mislimun, Wa Limadza taqaddama Ghairuhum” (mengapa orang-orang Islam terbelakang dan mengapa orang-orang lain menjadi maju). Dalam buku ini dia menyimpulkan bahwasannya yang kurang dari umat Islam adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan kualitas amal perbuatan/kerja.

Melihat fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab kemunduran negara Islam adalah sistem pendidikan yang dilakukan. Karena pada hakikatnya pendidikanlah yang menentukan dan menjadi sumber awal indikator majunya suatu negara. Dari pendidikan muncul manusia yang berkualitas tinggi, berkompeten dalam suatu bidang, dan bermoral serta berakhlak baik.

Organisai Konferensi Islam (OKI) sebagai organisasi yang membawahi seluruh negara Islam selalu mengadakan kongres demi perwujudan pendidikan yang maju dan siap bersaing di era global ini. Dari keputusan-keputusan yang telah ditetapkan mereka semua berharap negara Islam ini tidak tertinggal dengan negara non Islam yang maju, seperti Amerika, Brazil, Jepang, dan Cina.

Indonesia dan Brunei Darussalam sebagai negara Islam selalu mengikuti perkembangan tersebut demi tercapainya tujuan bersama. Akan tetapi melihat kenyataan yang terjadi kedua negara tersebut masih belum bisa mancapai tujuan. Pembenahan sistem pendidikan terus dikembangkan, perubahan kurikulum yang sesuai dengan tuntunan zaman dan pemberian anggaran dana pendidikan yang sesuai dengan masyarakat, itulah hal-hal yang mereka lakukan secara terus menerus. Tak lain semuanya itu demi terwujudnya warga negara yang mempunyai sumber daya manusia yang tinggi. 

1. 2. Rumusan Masalah
Melihat latar belakang di tas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana negara Islam meningkatkan pendidikan?
2. Bagaimana sistem pendidikan di Indonesia dan di Brunei Darussalam?
3. Bagaimana perbandingan antara pendidikan Indonesia dengan Pendidikan Brunei Darussalam? 

1. 3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan perannya dalam meningkatkan pendidikan.
2. Mendeskripsikan sistem pendidikan di Indonesia.
3. Mendeskripsikan ssstem pendidikan di Brunei Darussalam.

1. 4. Batasan Masalah
Dalam penulisan ini masalah yang dibahas meliputi:
1. Negara Islam dalam mengembangkan pendidikan.
2. Perbandingan pendidikan Indonesia dengan Brunei Darussalam.
3. Nilai-nilai perbandingan sebagai alat perubahan.

1. 5. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini adalah memberikan suatu pemahaman tentang negara Islam (Indonesia dan Brunei Dasrussalam) dalam mengembangkan sektor pendidikannya serta menjelaskan sistem-sistem pendidikan yang ada di dalamnya. Dengan pemahaman tersebut diharapkan pembangunan pendidikan lebih terarah dan muncullah manusia yang mempunyai kualitas dan kompeten tinggi. 

BAB II
PEMBAHASAN

2. 1. Pengertian OKI (Organisasi Konferensi Islam)
Organisasi Konferensi Islam (OKI) adalah organisasi internasional pengelompokan lima puluh tujuh negara yang telah memutuskan untuk menyatukan sumber daya mereka bersama-sama, menggabungkan usaha mereka dan berbicara dengan satu suara untuk menjaga dan mengamankan kepentingan kemajuan dan kesejahteraan rakyat mereka dari semua muslim di dunia.

Organisasi ini didirikan di Rabat, Kerajaan Maroko, pada 12 Rajab 1389H (25 September 1969) ketika pertemuan pertama pemimpin dunia Islam diselenggarakan di bangun dari upaya Zionis kriminal membakar Maha Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 di kota yang diduduki Al-Quds.
Organisasi inilah yang menghimpun negara-negara Islam di seluruh dunia. Adapun anggota negara Islam yang ikut organisasi ini ada 57 negara antara lain : Afganistan, Arab Saudi, Yaman, Albania, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Kuwait, Maroko, Mesir, Turki, dan lain-lain.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah mengadakan kongres pendidikn kejuruan dan teknis di Held Between the Dates of 18-20 June of 2009 in Istanbul by Turkish Asian Center For Istanbul oleh Turki Asian Center Strategic Studies (TASAM). Strategic Studies (TASAM) pada tanggal 18-20 Juni 2009. Adapun hasilnya antara lain sebagai berikut:
1. Di negara-negara Islam, suatu perencanaan lengkap kebijakan ekonomi tergantung kepada development program of the country and vocational and technical educational strategy program pembangunan negara dan pendidikan kejuruan dan teknis strategi dependent to this policy will lead the policy to its the goal. tergantung kebijakan ini akan menyebabkan kebijakan ke tujuan.
2. 15.2. 22.”Standar Kompetensi Profesional” harus dipopulerkan di negara-negara Islam melalui comparing research-development, skills needs analysis and professional competence membandingkan penelitian-pengembangan, analisis kebutuhan keterampilan dan kompetensi profesional standards. standar.
16.3. A common accreditation institution must be established between Islamic countries. Sebuah lembaga akreditasi umum harus ditetapkan antara negara-negara Islam.
17.4. Banks in Islamic countries shall financially support the projects in the field of vocational Bank-bank di negara-negara Islam akan mendukung secara finansial proyek-proyek di bidang kejuruan and technical education. dan teknis pendidikan.
185. Sebuah “Platform untuk Kejuruan dan Teknis Pendidikan di Negara-Negara Islam” akan immediately be established and a communication network (internet portal) of this segera dibentuk dan jaringan komunikasi (internet portal) dari platform shall urgently be actualized in some certain languages. platform akan segera mewujud dalam beberapa bahasa tertentu. 

2. 2. Sistem Pendidikan di Indonesia 
Makna Pendidikan di Indonesia adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Adapaun Filosofi pendidikan di Indonesia adalah Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Sistem pendidikan di Indonesia disebut dengan sistem pendidikan nasional yang mempunyai arti keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Sistem pendidikan nasional terbagi menjadi tiga (3) bagian yaitu: 
1. Kelembagaan yang terdiri dari jenjang pendidikan dan jalur pendidikan.
2.  Jenis Pendidikan yang terdiri dari Umum, kejuruan, vokasional, dan lain-lain.
3. Kurikulum. Sesuai dengan UU yang telah ditetapkan pendidikan Indonesia sekarang memakai kurikulum KTSP (kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

 2. 2. 1. Jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Adapun macam-macamnya sebagai berikut:
a. Pendidikan anak usia dini
Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
b. Pendidikan dasar 
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
c. Pendidikan menengah
Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.
d. Pendidikan tinggi 
Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doctor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.

2. 2. 2. Jalur pendidikan
Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Adapun macam-macamnya sebagai berikut:
a. Pendidikan formal
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.
b. Pendidikan nonformal
Pendidikan ini paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap masjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.
Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya.
c. Pendidikan informal 
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.
2. 2. 3. Jenis pendidikan
Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. Adapun macam-macamnya sebagai berikut:
a. Pendidikan umum
Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah ke Atas (SMA).
b. Pendidikan kejuruan
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
c. Pendidikan akademik
Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program Sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
d. Pendidikan profesi
Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang Profesional.
e. Pendidikan vokasi
Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).
f. Pendidikan keagamaan
Pendidikan Keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.
g. Pendidikan khusus
Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).
2. 2. 4. Kurikulum Di Indonesia
Kurikulum yang dipakai sekarang adalah KTSP (Kurikulum Tingkat satuan pendidikan) adapaun maknanya adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulaitahun ajaran 2006/2007 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan(SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Walaupun penyusunan kurikulum sudah diberikan sepenuhnya kepada pihak sekolah disini masih harus memperhatikan hal-hal yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
a. peningkatan iman dan taqwa
b. peningkatan ahlaq mulia
c. peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peerta didik
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan.
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional
f. tuntunan dunia kerja
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
h. agama
i. dinamika perkembangan global
j. persatuan nasional dan  nilai-nilai kebangsaan.

2. 3. Pendidikan di Negara Brunei Darussalam 
2. 3. 1.  Potret Sistem Pemerintahan Dan Kondisi Demografis 
Brunei  Darussalam  merupakan  salah  satu  negara  di  kawasan  Asia Tenggara  yang  terkenal  sangat  makmur.  Brunei  Darussalam  yang  merupakan anggota  ke-6  ASEAN  ini  mendapatkan  kemerdekaannya  dari  Inggris  pada tanggal 1 Januari 1984. Kepala negara Brunei Darussalam adalah seorang Sultan yang sekaligus  sebagai  Kepala  Pemerintahan  (Perdana  Menteri).  Kendatipun wewenang  serta  kekuasaan  Sultan  yang  diberikan  Konstitusi  begitu  besar, namun  sistem  pemerintahan  Brunei  Darussalam  bersifat  demokratis.  Tetapi dalam  hal  cara  pemilihan  para  birokrat  di  Brunei  cenderung  dengan  sistem rekruitmen  tertutup.  Sistem  ini  tidak  menyerap  personil  dari  seluruh  lapisan masyarakat. Jadi,  Brunei  merupakan  negara  kerajaan  dengan  kepala  pemerintahan berada di tangan sultan.

Kira-kira  dua  pertiga  jumlah  penduduk  Brunei  adalah  orang  Melayu. Kelompok  etnik minoritas  yang  paling  penting  dan  yang menguasai  ekonomi negara  ialah  orang Tionghoa  (Han)  yang menyusun  lebih  kurang  15%  jumlah penduduknya.  Etnis-etnis  ini  juga menggambarkan  bahasa-bahasa  yang  paling penting: bahasa Melayu yang merupakan bahasa  resmi,  serta bahasa Tionghoa. Bahasa  Inggris  juga  dituturkan  secara meluas,  dan  terdapat  sebuah  komunitas ekspatriat  yang  agak  besar  dengan  sejumlah  besar  warganegara  Britania  dan  Australia. Islam  ialah  agama  resmi Brunei,  dan  Sultan Brunei merupakan  kepala agama  negara  itu.  Agama-agama  lain  yang  dianut  termasuk  agama  Buddha (terutamanya oleh orang Tiong Hoa), agama Kristen, serta agama-agama orang asli (dalam komunitas-komunitas yang amat kecil).Ekonomi  kecil  yang  kaya  ini  adalah  suatu  campuran  keusahawanan dalam negeri dan asing, pengawalan kerajaan, kebajikan, serta tradisi kampung.

2. 3. 2. Dasar Pengembangan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan
Program   pendidikan   diarahkan  untuk   menciptakan  manusia  yang berakhlak dan beragama dan menguasi teknologi.  Pemerintah telah menetapkan  tiga  bidang utama dalam  pendidikan, yaitu :
• Sistem dwibahasa di semua sekolah
• Konsep Melayu Islam Beraja (MIB) dalam kurikulum sekolah  
• Peningkatan serta perkembangan sumber daya manusia.

Kebijakan di Bidang Pendidikan Agama 
Baginda  merumuskan,  semua  objektif  di  dalam  pendidikan  ialah  bagi melahirkan  rakyat  yang  taat beragama  di  mana  mereka  akan  menjadi  pelita ummah yang mempunyai fahaman dan pegangan yang betul. Kea  rah  itu,  baginda  turut  berharap  supaya  dikemaskinikan  mata pelajaran  Pengetahuan Agama  Islam  atau  Islamic Religious Knowledge  (IRK) dalam persekolahan umum.

Sehubungan  dengan  itu,  baginda  percaya,  program  pengembangan sumber  tenaga manusia dengan dana  sejumlah $250  juta yang diluluskan baru-baru ini juga akand apat melihat aspek ini. Yakni,  titah  baginda, manusia  yang  dirancang  dan  akan  lahir  daripada program tersebut ialah manusia Brunei yang berilmu, mahir dan beramal salih. Baginda  menambah  titah,  semenjak  kerajaan  memperkenalkan  sistem persekolahan  agama  hampir  setengah  abad  yang  lalu,  rakyat  negara  ini  telah dapat  mempelajari  ilmu-ilmu  agama  khasnya  Ibadat  dan  Al-Quran  dan seterusnya perlaksanaan Pelajaran Dewasa Agama. Semenjak  itulah  juga,  titah  baginda,  persekolahan  agama  telah  berjaya mencorakkan  hidup  kita  selaku  orang-orang  Islam  di  mana  daripadanya terpancar sinar agama menyinari kehidupan ini.

2. 3. 3. Sistem Perjenjangan Pendidikan yang Dikembangkan 
Sistem  pendidikan  umum  Brunei  memiliki  banyak  kesamaan  dengan negara  Commonwealth  lainnya  seperti  Inggris, Malaysia,  Singapura  dan  lain-lain.  Sistem  ini  dikenal  dengan  pola A7-3-2-2″  yang melambangkan  lamanya masa  studi  untuk masing-masing  tingkatan  pendidikan  seperti:  7  tahun  tingkat dasar, 3  tahun  tingkat menengah pertama, 2  tahun  tingkat menengah atas dan 2 tahun pra-universitas.

Untuk  tingkat  dasar  dan menengah  pertama,  sistem  pendidikan  Brunei tidak  jauh  berbeda  dengan  Indonesia.  Pendidikan  dasar  bertujuan memberikan kemampuan  dasar  bagi murid-murid  dalam menulis, membaca,  dan  berhitung disamping membina dan mengembangkan karakter pribadi.  Pendidikan TK yang merupakan bagian tingkat dasar mulai diterapkan di Brunei  tahun  1979  dan  sejak  itu  setiap  anak  berumur  5  tahun  diwajibkan memasuki TK selama setahun sebelum diterima di SD kelas 1. Kenaikan tingkat dari TK ke SD dilakukan secara otomatis. Di tingkat SD, mulai dari kelas 1 dan seterusnya setiap murid akan mengikuti ujian akhir tahun dan hanya murid yang berprestasi  saja  yang  dapat melanjutkan  ke  kelas  berikutnya.  Sementara  yang gagal  harus  tinggal  kelas  dan  sesudah  itu  baru  mendapat  kenaikan  kelas otomatis.  Setelah mengikuti pendidikan dasar 7 tahun, murid yang lulus ujian akhir dapat melanjutkan  pendidikannya  ke  SLTP  selama  3  tahun.  Bagi  siswa  yang lulus ujian akhir SLTP akan memiliki pilihan yaitu:
Dapat meneruskan  pelajaran  ke  tingkat  SLTA  . Di  tahun  ke-2,  siswa  akan menjalani ujian penentuan tingkat yang dikenal BCGCE (Brunei Cambridge General Certificate of Education) yang terdiri dari 2 tingkat yaitu tingkat AO dan AN. Bagi siswa yang berprestasi baik akan mendapat ijazah tingkat AO artinya siswa dapat meneruskan pelajaran langsung ke pra-universitas selama 2  tahun  untuk  mendapatkan  ijazah  Brunei  Cambridge  Advanced  Level Certificate  tingkat AA. Sementara  itu,  siswa  tingkat AN harus melanjutkan studinya selama setahun  lagi dan kemudian baru dapat mengikuti ujian bagi mendapatkan ijazah tingkat AO.  Bagi  siswa  tamatan  SLTP  yang  tidak  ingin  melanjutkan  pelajarannya  ke universitas  dapat  memilih  sekolah  kejuruan  seperti  perawat  kesehatan, kejuruan  teknik dan seni, kursus-kursus atau dapat  terjun  langsung ke dunia kerja.

BAB III
PENUTUP
3. 1. Simpulan
Dari paparan di atas dapat kita simpulkan mengenai hal-hal yang membandingkan antara pendidikan di Indonesia dengan Brinei Darussalam, antara lain sebagai berikut:
a. Arah atau tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan di Indonesia adalah mewujudkan manusia yang memilikikekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan tujuan pendidikan Brunei Darussalam adalah terbentuknya manusia yang berahlak dan beragama sertta menguasai tehnologi tinggi.

b. Jenjang Pendidikan
Dari  paparan  di  atas  kita  dapat melihat  adanya  perbedaan  sistem  yang digunakan  Brunei  dan  Indonesia  antara  lain  pendidikan  dasar  Brunei  dimulai sejak Taman Kanak Kanak ketika anak berumur 5 tahun sementara di Indonesia baru dimulai pada tingkat sekolah dasar ketika anak berumur 6 tahun.
Pendidikan  menengah  pertama  antara  Brunei  dan  Indonesia  memiliki banyak  kesamaan  sedangkan  pada  tingkat  menengah  atas,  sistem  pendidikan Brunei  memberikan  peluang  bagi  siswa  berprestasi  memuaskan  untuk  dapat menyelesaikan  pendidikannya  setahun  lebih  cepat  dibandingkan  dengan  siswa
berprestasi  kurang.  Dengan  menghemat  waktu  setahun  memungkinkan  pula siswa  berprestasi  tersebut  menyiapkan  diri  lebih  cepat  ke  jenjang  perguruan tinggi. Dengan sistem di  Indonesia sekarang  ini dapat disamakan dengan siswa unggul yang lompat kelas.
Dalam  kemampuan  penyerapan  bahasa  asing,  di  Brunei  Darussalam sejak  kelas  3  SD,  murid-murid  sudah  diarahkan  menguasai  bahasa  Inggris sebagai bahasa pengantar resmi di sekolah disamping bahasa Melayu. Beberapa mata  pelajaran  seperti  matematika,  geografi  diajarkan  guru  dengan menggunakan  bahasa  Inggris.  Berbeda  dengan  di  Indonesia  dimana  bahasa Inggris hanyalah merupakan  salah  satu mata pelajaran,  sedangkan bidang  studi lainnya diajarkan dalam bahasa Melayu.

c. Kurikulum
Ternyata kedua negara ini memasukkan mata pelajaran Agama dalam kurikulum. Materi agama harus ada di setiap jenjang pendidikan. Di sinilah letak bedanya negara Islam dan non Islam, pelajaran agama di negara Islam lebih ditekankan agar pendidikan itu membentuk manusia yang berahlak, bermoral dan berkepribadin luhur. Tetapi mereka juga tidak mengesampingkan pendidikan sain dan tehnologi, yang mana itu harus dikuasai demi seimbangnya kehihupan di era global ini.
3. 2. Saran