Tampilkan postingan dengan label Artikel Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

Ekonomi Kreatif dan Industri Budaya

Oleh: Ja’far Rassuh

Ekonomi kreatif adalah konsep ekonomi baru yang berorientasi pada kreatifitas, budaya dan teknologi. Gagasan ekonomi kraetif ini diciptakan untuk mengantisipasi arus  deras gelombang ekonomi ke empat.

Selasa, 13 Desember 2016

Menulis Sejarah Kampung

Oleh: Ricky A. Manik

Semasa sekolah, pelajaran sejarah yang saya terima adalah sejarah dalam narasi-narasi besar yang ditulis oleh para sejarahwan. Kerja penulis (sejarahwan) dalam telaah-telaah etnografis dan kerja-kerja historiografis cenderung menjadi milik kekuasaan.

Senin, 11 Juli 2016

Meminimalisasi Kepunahan

Oleh: Nukman 

I
Ketika topik tradisi lisan diajukan dalam forum dialog Bahasa dan Sastra dengan Komunitas, ada harapan munculnya kesepahaman bahwa tradisi lisan dapat menjadi perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia(sesuai dengan tema dialog). Tradisi lisan yang dimaksud tidak hanya mencakup cerita, mitos, legenda, dan dongeng, tetapi juga mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, misalnya kearifan lokal, sistem nilai, pengetahuan tradisional, sejarah, hukum adat, pengobatan, sistem kepercayaan dan religi, astrologi, dan berbagai hasil seni . 

Minggu, 10 Juli 2016

Kondisi dan Tantangan Tradisi Lisan di Jambi

Oleh: Ja’far Rassuh 

I
Pada awalnya Jambi dihuni oleh beberapa kelompok etnis Melayu. Setidaknya ada tujuh, yaitu: Kerinci, Batin, Penghulu,  suku Pindah, Anak Dalam, Orang Laut, dan suku bangsa Duabelas. Mereka hidup tersebar dengan kelompok budayanya masing-masing. Tradisi yang mereka miliki saling berbeda. Perbedaan itu bisa jadi disebabkan oleh letak geografis, alam dan pola pikir yang dimiliki.

Sabtu, 09 Juli 2016

Komunitas Sastra di Jambi dan Praktik Agen-agennya (Sebuah Pembicaraan Awal)

Oleh: Ricky A Manik 

Iklim dan geliat sastra dibeberapa daerah menunjukkan kondisi yang kondusif dan dibeberapa daerah menunjukan arah sebaliknya. Padang, Yogyakarta, Makasar, Jakarta, Bandung, dan kota lainnya menunjukan bagaimana kehidupan bersastra itu tumbuh. Generasi demi generasi bermunculan sekalipun terjadi berbagai perubahan kondisi sosial, sedangkan di tempat lain ada yang tumbuh namun setelah itu hilang. Apa yang berbeda?

Jumat, 08 Juli 2016

Seni Membentuk Identitas Bangsa: Bagaimana Sastra Jambi Hari Ini?

Oleh: Titas Suwanda 

Seni dapat membentuk dunia. Pernyataan ini  memberikan penguatan bahwa kesenian tidak hanya bisa membentuk integritas suatu negara, kesenian bisa menjadi lebih jauh dari itu. Kesenian dapat membangun suatu peradaban, bahkan dunia.

Jumat, 31 Oktober 2014

Suara Penyair Feminis

Oleh: Suyono Suyatno
Ideologi gender yang berpihak pada maskulinitas, yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat patriarkis, telah berabad-abad memerangkap kaum perempuan hanya sebagai the second sex (makhluk kelas dua dari sisi gender). Singkatnya, perempuan adalah subordinasi dari superioritas kaum lelaki. 

Rabu, 06 Agustus 2014

Kritik Postkolonial: Jaringan Sastra atas Rekam Jejak Kolonialisme

Oleh: Puji Santosa
Tonggak kelahiran teori postkolonial ditandai dengan terbitnya buku Edward W. Said (1978), Orientalism. Tesis utama buku karya Said tersebut menggunakan pendekatan hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan. Sebagaimana diantarkan oleh Michael Foucault dalam bukunya, The Archeology of Knowledge (1972) dan Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1977), kaum orientalis berpendapat bahwa masalah studi ilmiah Barat mengenai Timur tidaklah semata-mata didorong oleh kepentingan pengetahuan, tetapi juga kepentingan kolonialisme.

Jumat, 16 Mei 2014

Desakralisasi Kata-kata dalam ”Mantra Pejinak Ular’’

 Oleh: Darwin
Sihir kata-kata adalah kekuatan para sastrawan. Di tangan seorang sastrawan, daya pikat kata adalah unsur terpenting dalam karya sastra, baik itu prosa maupun puisi. Kata-kata biasa bisa menjadi ‘berbunga’ di ujung pena seorang sastrawan. Kata-kata yang basi di mulut politisi, bisa menjadi berisi dalam setiap ucap para sastrawan. Itulah yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri yang populer dengan ‘’puisi mantranya’’. Atau, di seberang lain ada Ayu Utami dengan teknik komposisinya. Tentunya tidak ketinggalan Chairil Anwar dengan permainan diksinya yang sulit mencari pembandingnya di zaman Twitter saat ini. Masih banyak lagi para ‘pemain kata’ yang tidak bisa semuanya disebutkan namanya di sini.

Selasa, 13 Mei 2014

Sastra Pasar(an)

Oleh: Agus Hernawan*
Sastra dan pasar. Hubungan keduanya, barangkali, menyerupai perselingkuhan. Ia sesuatu yang mengasyikkan, tetapi juga mencemaskan. Ada hal yang dianggap normatif, semacam pakem tentang sesuatu yang tak bisa dijual.

Sementara, pasar jelas adalah persoalan bagaimana sebuah produk harus memiliki kemolekan dan kekuatan bujuk rayu. Selain itu, pasar menuntut daya saing dalam capaian-capaian inovasi yang tak mengenal ujung. Nah,di sinilah masalahnya. Dunia sastra kita tak punya perbendaharaan pada persaingan yang wajar dan rasional.

Rabu, 02 Mei 2012

Suara Penyair Feminis

Pengantar
Ideologi gender yang berpihak pada maskulinitas, yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat patriarkis, telah berabad-abad memerangkap kaum perempuan hanya sebagai the second sex (makhluk kelas dua dari sisi gender). Singkatnya, perempuan adalah subordinasi dari superioritas kaum lelaki. Secara kultural pun dikonstruksikan bahwa perempuan lebih rendah daripada lelaki sehingga banyak lahir mitos yang mengajarkan bahwa perempuan harus taat dan setia pada lelaki, sementara pada lelaki tidak ada tuntutan untuk setia pada perempuan.

Rabu, 28 Maret 2012

Menggagas Sastra Religius yang Berkualitas

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika.

Selasa, 21 Februari 2012

Sastra Cyber

Sastra cyber merupakan suatu revolusi. Sebagaimana internet menjadi revolusi media kedua setelah penemuan mesin cetak Guttenberg dan ketiga setelah kehadiran televisi. Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri telah memiliki beberapa kekhasan yang terkait dengan keberadaan teknologi media. Antara lain sastra majalah, sastra koran, dan sebagainya. Ketika biaya publikasi semakin mahal,begitu juga dengan keberadaan sastra koran/majalah dirasa telah membangun hegemoninya sendiri, internet pun datang.

Rabu, 18 Januari 2012

Sejarah dan Teori Sastra Bandingan

Sejarah Sastra Bandingan
Istilah sastra bandingan kali pertama muncul di negara Inggris yang dipelopori oleh para pemikir Perancis seperti Fernand Baldensperger, Jean-Marie Carre’, Paul van Tieghem, dan Marius-Francois Guyard. Mereka ini dalam ilmu sastra bandingan akhirnya lebih dikenal sebagai pelopor aliran Perancis atau aliran lama (Hutomo, 1993: 1). Pada perkembangan selanjutnya, sastra bandingan ini juga berkembang di Amerika, mengembangkan konsep-konsep sastra bandingan aliran Perancis, sehingga sastra bandingan aliran Amerika ini disebut sebagai aliran baru (Hutomo, 1993: 1).

Rabu, 14 September 2011

Sastra Inovasi dan Otentisitas

Masalah-masalah hidup yang ditulis para sastrawan sungguh berbeda dengan para wartawan. Media sastra yang dimiliki sastrawan, mampu mengabadikan kisah-kisah kehiduan, tetap aktual sepanjang zaman. Bila media elektronik dapat menyampaikan berita yang sedang terjadi secara langsung, media cetak hanya akan dapat menyajikan setelah berlangsung atau akan berlangsung. Sastrawan dapat mengabadikan kisah-kisah aktual itu menjadi bacaan yang mungkin untuk sepanjang zaman.