Senin, 18 Juli 2016

Mendulang Makna daam Lakon Drama: Nasionalisme dalam Pertunjukan

Oleh: Didin Sirojudin 

Bismillah
Kubaca huruf pertama hijaiyyah
Dalam rumah yang sedekah
Alifkan niat dari kehendak yang terserak
Jadi satu dalam piring do’aku
Rob berkati semua sesaji
Yang kuhidang hari ini.
Kehidupan merupakan kenyataan sosial yang memiliki mata rantai hubungan saling berkaitan. Terjadinya hubungan tersebut karena adanya kesamaan pandangan hidup yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Kenyataan sosial itu merupakan hubungan antara masyarakat dengan perseorangan, antara manusia dan antara peristiwa yang terjadi dalam diri manusia.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat dan terjadi dalam diri manusia merupakan persoalan-persoalan yang harus dihadapi oleh seorang seniman.Karena lahirnya karya seni selalu berdampingan dengan kenyataan sosial masyarakatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam beberapa persoalan manusia dihadapkan kepada eksistensinya yang melingkupinya. Manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk .soaial.Sebagai makhluk individu manusia punya pilihan-pilihan untuk memuaskan dirinya. Sedangkan sebagai makhluk sosial manusia dikenai sanksi-sanksi dan kewajiban oleh masyarakatnya di mana ia hidup secara bermasyarakat.

Eksistensi manusia sifatnya terbuka, berbeda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus merupakan esensinya. Manusia sebagai pencipta dirinya tidak pernah selesai dengan upayanya (Hasan, 1992: 133-134).

Eksistensialisme manusia ditekankan pada pentingnya nilai-nilai kewajiban individu dengan sesama manusia. Kenyataan bahwa manusia bukan sekedar mekanisme atau hasil proses pelaziman untuk mengakui rasa kemanusiaan, dan untuk mengakui bahwa manusia adalah wujud yang selalu mencari makna..Hati manusia selalu resah sebelum menemukan makna dalam hidupnya (Rakhmat, 1989:35-36).

Dari keresahan inilah penulis mencoba untuk mengungkap peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan tema yang disodorkan oleh panitia, yaitu “Nasionalisme dalam seni pertunjukan”.Dalam tulisan ini yang diberi judul  “Mendulang makna dalam lakon drama”. Begitu panjang sejarah pertunjukan Indonesia, berawal dari pertunjukan Tonil pada zaman penjajahan Belanda, kemudian Sandiwara pada zaman penjajahan Jepang hingga berkembang sampai saat sekarang. Dalam perjalanannya, seni pertunjukan Indonesia sudah memperlihatkan rasa kebangsaannya (nasionalisme), terutama pada zaman penjajahan Jepang yang lebih kentara, dimana rasa nasionalisme pada seni pertunjukannya (sandiwara) memiliki semangat juang untuk mengkritik ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang. Namun kritik tersebut disampaikan tidak terang-terangan tetapi lebih bersifat sandi (simbolik).Karena pemerintah Jepang sebagai penguasa tentu tidak suka dikritik oleh seniman Indonesia sebagai masyarakat jajahannya.

Sandiwara sebagai bentuk seni pertunjukan pada masa penjajahan Jepang secara tidak langsung telah memberikan pendidikkan politik kepada masyarakat Indonesia untuk melawan penjajahan Jepang.Kesadaran adanya tekanan dari penguasa Jepang telah melahirkan semangat dan kekuatan nasionalisme dikalangan seniman Indonesia.

Pada tulisan “Mendulang makna dalam lakon drama”, penulis ingin membatasi bahwa peristiwa-peristiwa teater yang akan diungkap terjadi pada perkembangan seni pertunjukan saat  inidi Provinsi Jambi. Bicara nilai nasionalisme pada seni pertunjukan saat ini tentuakanberbeda dengan nilai nasionalisme pada zaman penjajahan. Nasionalisme pada zaman penjajahan memiliki nilai kejuangan untuk merebut kemerdekaan Negara Indonesia sebagai bangsa. Sedangkan nasionalisme pada saat sekarang nilai kejuangannya lebih ditekankan kepada bagaimana mempererat rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI. Kita menyadari bahwa Negara Indonesia yang terdiri berbagai ras, suku bangsa dan agama, apabila tidak dibina dengan baik maka akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Untuk itu kebinekaan tersebut harus dijaga dan dipelihara agar tidak saling berbenturan.

Penggalian dan Pengembangan Seni Budaya Tradisi Jambi
Penggalian dan pengembangan seni budaya tradisi Jambi  merupakan sebuah ide gagasan kreatif yang lahir dari kesadaran para seniman Jambi untuk mempertahankan jatidiri sebagai manusia berbudaya. Sikap nasionalisme yang diperlihatkan adalah bagaimana para seniman Jambi dalam menjaga dan memelihara nilai-nilai kearifan lokalnya. Karena dengan menjaga dan memelihara nilai-nilai kearifan lokal dalam seni pertunjukan Jambi akan menggugah kesadaran penonton bahwa kesenian yang dipertunjukan tersebut adalah miliknya. Hanya saja barangkali kemasannya yang mengalami perubahan.Hal tersebut dimungkinkan karena adanya perkembangan zaman yang menuntut perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi sosial masyarakatnya.

Kelahiran Teater Tonggak, Teater Air, Teater Pancarona, Teater Oranye UNJA dan grup-grup teater lainnya di Jambi merupakan sebuah konsep penggalian dan pengembangan potensi seni budaya tradisi yang hidup dan berkembang di Provinsi Jambi khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Mereka adalah pelaku-pelaku seni budaya yang sangat konsen dalam melakukan penggalian dan pengembangan seni budaya tradisi melalui proses pengolahan dan eksperimentasi. Hal ini dilakukan sebagai wujud kesadaran dan tanggung jawab terhadap eksistensi seni budaya daerah Jambi. Sehingga dalam proses kreatifnya, penggalian yang dilakukannya senantiasa mengusung kearifan lokal. Namun pada pola pengembangan, kreativitas yang ditawarkan mengacu pada pertunjukan seni kekinian.Upaya ini dilakukan sebagai bentuk kreatif inovatif untuk memperkaya khasanah seni budaya Jambi. Seperti yang dilakukan oleh Teater Tonggak dalam karya “Menggugat Jalan Setapak”.Permainan rakyat “enggrang” yang terbuat dari bambu merupakan salah satu proferti yang paling dominan dalam pilihan artistik sesuai dengan tema yang diangkat, yaitu tentang tanah beracun karena kebocoran limbah industri. Demikian pula dengan karya-karya lainnya, seperti: Tembang Anak Sialang, Kepompong, Kakitau, Telusur Jejak Leluhur, Cuci Kampung, Dosa Yang Tersisa, Rentak Baro Api, Jung Bajo bahkan Lear Asia karya Rio Kishida merupakan karya hasil pengolahan dan eksperimentasi yang tidak lepas dari sentuhan nilai-nilai ketradisian Jambi.  Demikian pula yang diperlihatkan oleh Teater Air yang sangat konsen mengangkat nilai-nilai kejuangan para pahlawan Jambi, seperti dalam lakon “Sultan Thaha” dan “Raden Mathaher” karya/sutradara EM. Yogiswara. Teater Oranye garapan Ari MHS Ce’gu yang mengangkat karya “Oi Mak Kawinkan Aku”. Mengangkat tema kehidupan sosial masyarakat Jambi.

Dalam beberapa even yang dilaksanakan oleh Taman Budaya Jambi, Disbudpar  Provinsi Jambi dan Disporabudpar Kota Jambi. Baik yang bersifat festival maupun pergelaran-pergelaran regular sanggar-sanggar seni di Provinsi Jambi, tema-tema  yang diangkat masih seputar muatan lokal Jambi. Hal tersebut menunjukan bahwa para seniman teater di Jambi masih peduli terhadap seni budaya tradisi Jambi.

Kearifan lokal sebagai salah satu rujukan dalam proses kreatif tersebut diharapkan dapat mempertahankan jatidiri seni budaya Jambi. Dalam proses pengembangan seni kekinian, pemanfaatan kearifan lokal yang dilakukan oleh grup-grup teater di Jambi merupakan bahan baku yang dipadukan dalam sebuah seni pertunjukan. Seperti musik tradisional, tari tradisional, teater tradisional, ragam hias daerah, sastra lisan dan lain-lain. Adapun tujuan dari pengembangan seni kekinian adalah untuk menjadikan seni teater yang tidak lagi sebatas media ritus tetapi menjelma menjadi salah satu genre seni tontonan yang menarik dan dapat menyampaikan pesan moral  secara cerdas, mendidik, dan inspiratif dengan kemasan inovasi artistik. 

Pemahaman kearifan lokal harus menjadi sebuah code of conduct bagi seluruh anggota grup-grup teater di Jambi dan sekaligus menjadi dasar keyakinan bahwa sebuah pertunjukan tak sekadar menjadi tontonan menarik. Lebih dari itu, sebuah pertunjukan harus mampu memperlihatkan nilai ketradisian sebagai identitas, nilai keindahan, dan memuat pesan kemanusiaan secara universal serta dapat memberikan hiburan yang menyenangkan. Penggalian dan pengembangan nilai-nilai ketradisian seni budaya Jambi  dalam beragam garapan pertunjukan teater menjadi sebuah tantangan dan peluang dalam proses kreatif. Penggalian dan pengembangan ini terjadi dalam bentuk tematik garapan pertunjukan, idiom-idiom naskah, corak dan warna pilihan artistik hingga memasuki ranah akting para aktor.

Proses berteater menjadi implementasi pengembangan jati diri dan pengalaman yang telah mengalami sublimasi yang tak kenal lelah bagi para pekerja teater. Ibarat sebuah lautan, dunia seni pertunjukan teater adalah dunia yang penuh kemungkinan yang sangat luas untuk diselami dan nyaris tak bertepi menunggu untuk dijelajahi.Teater memberikan ruang luas bagi para pelakunya untuk mencari jati diri, menemukan kebenaran dan realitas makna yang tersembunyi.

Ekspresi daya kerja pekerja teater yang totalitas, egaliter dan konsisten dalam berkarya tanpa kenal lelah dalam kerja-kerja kreatif teater ini dilakukan atas sebuah pemahaman dan keyakinan bersama-sama untuk menggali, mengembang dan melestarikan jatidiri. Dalam melakukan proses kreatif, penggalian dan pengembangan nilai-nilai tradisi tak hanya pada sebatas wilayah konsep, tetapi terus berupaya melakukan eksplorasi dalam upaya pencarian bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan local identity sebagai bentuk peningkatan kualitas kesenian.

Penulis sangat yakin betapapun kecilnya sebuah peristiwa seni budaya yang dilakukan oleh para seniman teater Jambi akan tetap menjadi usaha pencarian ekspresi seni pertunjukan yang tak pernah luntur dan dapat menginformasikan pesan moral kepada masyarakat luas. Suatu saat akan tercatat menjadi jejak sejarah dalam proses kontinuitas dalam upaya menggali, mengembang dan lestari jatidiri. 


Sumber: Tentang Kita dan Mereka: Kumpulan Makalah Dialog Bahasa dan Sastra dengan Komunitas Masyarakat Jambi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk perbaikan ke depan silakan tinggalkan saran ataupun komentar...